3 Proses Induksi Persalinan Menurut SehatQ

Induksi persalinan merupakan prosedur yang dilakukan dengan tujuan menstimulasi rahim. Hasilnya rahim akan mengalami kontraksi dan bisa mencapai persalinan normal melalui vagina. Biasanya, proses induksi akan direkomendasikan oleh dokter ketika terjadi kekhawatiran dengan keselamatan ibu dan janin.

Banyak yang bingung atau masih belum tahu bagaimana tanda jika dari induksi yang berhasil. Tanda bahwa prosedur tersebut berhasil bisa diketahui dari seberapa lunak atau kerasnya serviks pada ibu hamil saat induksi dilakukan. Meski tujuannya untuk menstimulasi, tapi prosedur ini juga dapat menyebabkan beberapa risiko.

Kondisi yang Menyebabkan Ibu Hamil Harus Melakukan Induksi Persalinan

Ada beberapa kondisi di mana ibu hamil harus melakukan prosedur tersebut. Misalnya masa kehamilan yang sudah lewat bukan dan tidak ada tanda mengalami persalinan. Jika hal tersebut terjadi, maka induksi biasanya dilakukan sekitar usia kehamilan mencapai 42 minggu.

Selain itu, ibu hamil yang mengalami terjadinya komplikasi, selaput ketuban yang pecah, kondisi gawat janin juga harus melakukan tindakan medis tersebut. Atau kondisi ibu hamil berada jauh dari rumah sakit. Alhasil, tindakan itu akan disebut sebagai induksi elektif yang bisa dijadwalkan saat usia kehamilan lebih dari 39 minggu.

Meski seorang ibu hamil mengalami kondisi di atas, bukan berarti prosedur induksi bisa langsung dilakukan. Pasalnya, dokter akan menentukan apakah ibu hamil tersebut bisa melahirkan normal atau harus caesar. Penilaian tersebut disebut sebagai skor Bishop, yang meliputi:

  • Berapa besar pembukaan dan penipisan leher rahim
  • Letak kepala janin
  • Posisi bagian bawah janin
  • Konsistensi leher rahim

Sebelum tindakan medis dilakukan, ada baiknya Anda mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Melakukan diskusi dengan dokter terkait metode induksi yang cocok
  • Menanyakan tanggal perkiraan persalinan
  • Bertanya tentang apa saja yang belum jelas tentang proses tersebut

Prosedur Induksi Persalinan untuk Ibu Hamil

Ada beberapa metode yang biasanya digunakan dalam induksi dan dilakukan oleh dokter. Anda bisa berdiskusi dengan dokter untuk memilih metode yang tepat agar persalinan terasa nyaman.

1.     Pematangan Leher Rahim atau Serviks

Prosedur yang pertama adalah pematangan pada serviks. Metode ini mengharuskan dokter menggunakan prostaglandin sintetik. Alat tersebut nantinya akan dimasukkan ke dalam vagina. Setelah itu, kontraksi dan denyut jantung pada janin akan terus dipantau dengan ketat.

Selain menggunakan prostaglandin, dokter bisa menyisipkan selang kateter yang dilengkapi balon ke dalam serviks. Nantinya balon tersebut akan dikembungkan sesuai ukuran yang diinginkan dokter.

2.     Amniotomi

Tindakan medis kedua yang dilakukan dalam induksi adalah amniotomi. Prosedur ini dikenal sebagai prosedur pemecah selaput ketuban. Nantinya, dokter akan membuat lubang kecil pada bagian selaput ketuban. Biasanya, ibu hamil akan merasakan aliran air ketuban hangat yang keluar dari selaput ketuban.

Biasanya, prosedur ini dilakukan jika sudah terjadi pembukaan sebagian. Tidak hanya itu saja, penipisan pada serviks dan kepala bayi yang sudah turun ke rongga panggul juga akan mulai tindakan tersebut.

3.     Oksitosin

Prosedur induksi yang ketiga adalah oksitosin. Oksitosin adalah obat yang akan merangsang terjadinya kontraksi. Saat obat diberikan melalui infus, kontraksi dan detak jantung pada janin akan dipantau.

Melihat tiga metode di atas, bukan berarti proses ini minim risiko. Nyatanya, tindakan ini juga mempunyai risiko yang cukup tinggi. Mulai dari perdarahan setelah persalinan, terjadinya operasi caesar, infeksi pada ibu dan janin, sampai terjadinya robekan pada rahim.

Meski mempunyai risiko, tapi dokter pasti sudah mempertimbangkan jalan yang tepat untuk keselamatan ibu dan janin. Itulah tiga prosedur atau metode dari induksi persalinan yang harus Anda tahu.